Jakarta — Perampokan bersenjata yang menimpa sebuah toko kartu koleksi di Manhattan menandai perubahan besar dalam lanskap dunia trading card game atau TCG. Kejadian pada Rabu, 21 Januari 2026 itu tidak hanya meninggalkan kerugian materi senilai sekitar USD 100 ribu atau setara Rp 1,6 miliar, tetapi juga mengguncang cara komunitas memandang keamanan ruang hobi yang selama ini dikenal terbuka dan ramah.
Toko tersebut dikenal sebagai tempat berkumpul penggemar kartu Pokemon. Pada hari kejadian, pemilik toko baru saja membuka pintu untuk menggelar acara komunitas pertamanya. Acara ini dirancang sebagai ajang pertemuan santai bagi kolektor dan pemain, tanpa biaya masuk, dan terbuka bagi siapa saja yang ingin datang. Konsep ini mencerminkan budaya TCG yang selama bertahun-tahun mengedepankan inklusivitas.
Namun, konsep keterbukaan itu justru menjadi celah. Tiga orang bersenjata api masuk ke dalam toko dan dengan cepat menguasai situasi. Para pengunjung dan penjaga toko tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti instruksi pelaku. Sekitar 50 orang terpaksa bertahan di dalam toko selama perampokan berlangsung. Tidak ada laporan korban luka, tetapi ketegangan terasa nyata bagi semua yang berada di lokasi.
Menurut keterangan karyawan, aksi para pelaku berlangsung sangat singkat dan terstruktur. Dalam hitungan menit, kartu-kartu bernilai tinggi telah dipindahkan dari etalase ke dalam tas. Pola ini menunjukkan bahwa pelaku memahami dengan baik apa yang mereka incar. Kartu koleksi tertentu kini memiliki nilai jual tinggi dan mudah dipindahkan, menjadikannya sasaran empuk bagi kejahatan terorganisasi.
Lonjakan nilai kartu Pokemon dalam beberapa tahun terakhir memang signifikan. Kartu edisi langka tidak lagi hanya diburu oleh penggemar, tetapi juga oleh investor. Perubahan ini menggeser posisi TCG dari sekadar hobi menjadi komoditas ekonomi. Dampaknya terasa langsung di tingkat toko, yang kini menyimpan aset bernilai ratusan ribu dolar dalam ruang yang sebelumnya tidak dirancang untuk risiko semacam itu.
Pemilik toko, Courtney Chin, menekankan bahwa peristiwa tersebut meninggalkan dampak psikologis yang lebih besar dibanding kerugian finansial. Ia menyatakan bahwa yang paling mengganggunya adalah pengalaman penyanderaan yang dialami puluhan pengunjung. Menurutnya, toko kartu seharusnya menjadi tempat aman bagi komunitas, bukan lokasi yang memicu rasa takut.
Pasca kejadian, pihak toko mulai mempertimbangkan langkah-langkah pengamanan yang sebelumnya jarang terpikirkan. Rekomendasi dari kepolisian dan pemilik usaha di sekitar lokasi mendorong wacana penggunaan penjaga keamanan profesional. Opsi ini mencerminkan pergeseran besar dalam cara toko hobi beroperasi, dari ruang santai menjadi tempat yang harus memperhitungkan risiko kriminal serius.
Kasus di Manhattan bukanlah peristiwa tunggal. Pada Desember 2025, sebuah toko kartu koleksi di Burbank, California, juga kehilangan stok kartu dengan nilai yang sama. Polisi saat itu menduga adanya kaitan dengan serangkaian pencurian serupa di wilayah California Selatan. Pola ini menunjukkan bahwa toko TCG kini masuk dalam daftar target yang dipantau oleh pelaku kejahatan.
Dalam 12 bulan terakhir, laporan mengenai pencurian dan perampokan toko kartu koleksi meningkat di berbagai wilayah Amerika Serikat. Faktor utamanya adalah nilai kartu yang terus meroket dan pasar sekunder yang aktif. Kartu kecil yang mudah disembunyikan, namun bernilai tinggi, menjadi kombinasi yang menarik bagi pelaku kriminal.
Perubahan situasi ini memaksa komunitas TCG untuk melakukan refleksi. Acara komunitas yang selama ini menjadi jantung ekosistem hobi kini dipandang memiliki risiko tersendiri. Beberapa toko mulai membatasi akses, mengurangi pameran kartu bernilai tinggi, atau memindahkan koleksi langka ke ruang penyimpanan yang lebih aman.
Media juga menghadapi tantangan dalam melaporkan kasus semacam ini. Foto lokasi kejadian sering kali tidak tersedia atau terlalu sensitif untuk dipublikasikan. Dalam konteks ini, ilustrasi editorial 2D menjadi solusi visual yang banyak digunakan. Ilustrasi memungkinkan media menyampaikan konteks peristiwa tanpa menampilkan kekerasan eksplisit atau identitas individu tertentu.
Ilustrasi editorial biasanya menampilkan interior toko kartu, rak yang sebagian kosong, serta sosok pelaku dalam bentuk siluet. Pendekatan ini menjaga fokus pada situasi dan dampak peristiwa, bukan pada sosok pelaku. Bagi pembaca, visual semacam ini membantu memahami bahwa yang diserang bukan hanya sebuah toko, tetapi juga ruang sosial tempat komunitas bertumbuh.
Pihak kepolisian di New York masih melakukan penyelidikan terkait perampokan tersebut. Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai penangkapan pelaku. Aparat disebut tengah menelusuri rekaman kamera pengawas dan mengumpulkan keterangan saksi untuk mengidentifikasi pola kejahatan yang mungkin terhubung dengan kasus lain.
Perampokan toko TCG di Manhattan menjadi penanda bahwa dunia kartu koleksi telah memasuki fase baru. Di satu sisi, popularitas dan nilai ekonomi TCG terus meningkat. Di sisi lain, risiko yang menyertainya juga semakin nyata. Bagi pelaku usaha dan komunitas, tantangan ke depan adalah menjaga semangat keterbukaan tanpa mengorbankan keselamatan.
Kasus ini menunjukkan bahwa hobi tidak lagi sepenuhnya terpisah dari dinamika ekonomi dan keamanan. Toko kartu koleksi kini berada di persimpangan antara ruang komunitas dan aset bernilai tinggi. Cara industri dan komunitas merespons perubahan ini akan menentukan masa depan dunia TCG dalam beberapa tahun ke depan.
